Monday, March 25, 2013

Latihan Soal Metode Harga Pokok Pesanan


Kartu Harga Pokok
Kartu harga pokok merupakan catatan yang penting di dalam metode harga pokok pesanan. Kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu, yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk mengerjakan pesanan tertentu dicatat secara terinci di dalam kartu harga pokok pesanan bersangkutan. Biaya produksi dipisahkan menjadi produksi langsung terhadap pesanan tertentu dengan biaya produksi tak langsung, dalam hubungannya dengan pesanan tersebut. Biaya produksi langsung dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok berdasarkan suatu tarif tertentu.
Untuk menggambarkan penggunaan metode harga pokok pesanan mari pelajari contoh berikut:
PT Eliona berusaha dalam bidang percetakan. Semua pesana diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Untuk dapat mencatat biaya produksi, tiap pesanan diberi nomor, dan setiap bukti pembukuan diberi identitas nomor pesanan yang bersangkutan. Dalam bulan Nov 2002 PT Eliona mendapat pesanan untuk mencetak undangan sebanyak 1500 lembar dari PT Rimendi. Harga yang dibebankan kepada pemesan tersebut adalah Rp 3000,- per lembar. Dalam bulan yang sama perusahaan juga menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak 20.000 lembar dari PT Oki dengan harga yang dibebankan kepada pemesan sebesar Rp 1000,- per lembar . Pesanan dari PT Rimendi diberi nomor 101 dan pesanan dari PT Oki diberi nomor 102. Berikut ini adalah kegiatan produksi dan kegiatan lain untuk memenuhi pesanan tersebut.
1.Pembelian bahan baku dan bahan penolong pada tanggal 3 Nov  perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong berikut ini :
Bahan baku:
Kertas jenis x         85 rim              a Rp    10.000,-          Rp    850.000,-
Kertas jenis y         10 roll              a Rp  350.000,-          Rp 3.500.000,-
Tinta jenis A            5 kg               a  Rp  100.000,-          Rp   500.000,-
Tinta jenis B          25 kg                a Rp    25.000,-          Rp   625.000,-
———————
Jumlah bahan baku yang dibeli                                        Rp5.475.000,-
———————
Bahan Penolong:
Bahan Penolong P      17 kg         a RP 10.000,-              Rp 170.000,-
Bahan Penolong Q      60 liter      a Rp   5.000,-              Rp 300.000,-
———————
Jumlah bahan penolong yang dibeli                                 Rp 470.000,-
——————–
Jumlah total                                                                      Rp 5.945.000,-
——————–
Perusahaan menggunakan dua rekening kontrol untuk mencatat persediaan bahan yaitu Persediaan Bahan Baku dan Persediaan Bahan Penolong, sehingga jurnal untuk mencatat pembelian bahan adalah :
Jurnal 1:
Persediaan Bahan Baku                      Rp 5.475.000,-
Utang Dagang                                                         Rp 5.475.000,-
Jurnal 2:
Persediaan Bahan Penolong               Rp 470.000,-
Utang Dagang                                                         Rp 470.000,-
Untuk memproses pesanan no. 101 dan 102 bahan baku yang digunakan adalah sebagai berikut:
Bahan baku untuk pesanan no 101:
Kertas jenis x       85 rim        a Rp 10.000,-          Rp  850.000,-
Tinta jenis A          5 kg         a  Rp 100.000,-        Rp 500.000,-
——————-
Jumlah bahan baku untuk pesanan 101                  Rp1.350.000,-
——————
Bahan baku untuk pesanan 102:
Kertas jenis y       10 roll         a RP 350.000,-      Rp 3.500.000,-
Tinta jenis B         25 kg          a Rp  25.000,-       Rp    625.000,-
——————-
Jumlah bahan baku untuk pesanan no 102            Rp 4.125.000,-
——————
Jumlah bahan baku yang dipakai                          Rp 5.475.000,-
Sedangkan bahan penolong yang terpakai untuk memproses dua pesanan tersebut adalah sebagai berikut:
Bahan penolong P       10 kg       a Rp 10,000,-              Rp 100.000,-
Bahan penolong Q       40 ltr       a Rp   5.000,-              Rp 200.000,-
——————
Jumlah bahan penolong yang dipakai dalam produksi   Rp 300.000,-
Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut:
Jurnal 3:
Barang Dalam Proses                        Rp 5.475.000,-
Persediaan Bahan Baku                                           Rp 5.475.000,-
Dan jurnal untuk mencatat pemakaian bahan penolong adalah sebagai berikut:
Jurnal 4:
Biaya Overhead Pbrik Sesungguhnya     Rp 300.000,-
Persediaan Bahan Penolong                                    Rp 300.000,-
Dari contoh di atas misalnya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi adalah sebagai berikut:
Upah langsung pesanan no 101 225 jam a Rp 4.000,-                           Rp     900.000,-
Upah langsung pesanan no 102 1.250 jam a Rp 4.000,-                        Rp  5.000.000,-
Upah tidak langsung                                                                               Rp  3.000.000,-
——————–
Jumlah upah                                                                                            Rp  8.900.000,-
Gaji karyawan Administrasi dan umum                Rp  4.000.000,-
Gaji karyawan bagian pemasaran                          Rp  7.500.000,-
——————-
Jumlah gaji                                                                                             Rp 11.500.000,-
——————–
Jumlah biaya tenaga kerja                                                                      Rp 20.400.000,-
Pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan melalui 3 tahap berikut ini:
a.Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan.
Jurnal 5:
Gaji dan Upah                              Rp 20.400.000,-
Utang Gaji dan Upah                                           Rp 20.400.000,-
b.Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja.
Jurnal 6:
Barang Dalam Proses                  Rp 5.900.000,-
BOP Sesungguhnya                     Rp 3.000.000,-
Biaya Administrasi dan Umum    Rp 4.000.000,-
Biaya Pemasaran                         Rp 7.500.000,-
Gaji dan Upah                                                    Rp 20.400.000,-
c.Pencatatan pembayaran gaji dan upah.
Jurnal 7:
Utang Gaji dan Upah                  Rp 20.400.000,-
Kas                                                                     Rp 20.400.000,-
Dari contoh diatas misalnya BOP dibebankan kepada produk atas dasar tarif sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian BOP yang dibebankan kepada tiap pesanan dihitung sebagai berikut:
Pesanan no 101  150% x  Rp  900.000,-             Rp 1.350.000,-
Pesanan no 102  150% x  Rp 5.000.000,-           Rp 7.500.000,-
———————
Jumlah BOP yang dibebankan                            Rp 8.850.000,-
Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik kepada pesanan tersebut adalah sebagai berikut:
Jurnal 8:
Barang Dalam Proses                         Rp 8.850.000,-
BOP yang dibebankan                                          Rp 8.850.000,-
Misalkan dari contoh diatas BOP sesungguhnya terjadi ( selain biaya bahan penolong Rp 300.000,- dan biaya tenaga kerja tak langsung sebesar Rp 3.000.000,- ) adalah:
Biaya depresiasi mesin                              Rp 1.500.000,-
Biaya depresiasi gedung pabrik                 Rp 2.000.000,-
Biaya asuransi gedung pabrik dan mesin   Rp   700.000,-
Biaya pemeliharaan mesin                         Rp 1.000.000,-
Biaya pemeliharaan gedung                       Rp    500.000,-
——————-
Jumlah                                                        Rp 5.700.000,-
Sumber : http://www.ut.ac.id – file jTriwiyanto
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment